Makelar Jual Beli Tanah Bolehkah Ambil Komisi Dari Pembeli dan Penjuak?




Kelebihan menjadi perunding hartanah

#Makelar #Jual #Beli #Tanah #Bolehkah #Ambil #Komisi #Dari #Pembeli #dan #Penjuak

Agen hartanah vs perunding hartanahCara menjadi perunding hartanahDaftar sebagai perunding hartanahEjen hartanah berdaftarGaji perunding hartanah MalaysiaKelebihan menjadi perunding hartanahKursus perunding hartanah MalaysiaLatihan perunding hartanahLesen perunding hartanahPanduan menjadi perunding hartanahPeluang perunding hartanah MalaysiaPendapatan perunding hartanahPermohonan perunding hartanahProspek kerjaya perunding hartanahSyarat menjadi perunding hartanahTugas perunding hartanah
Comments (13)
Add Comment
  • @aridesainart5828

    Dan bagaimanan cara nya bang klo hasil komisi kita yang gede pasti pihak bank menanyai hasil itu

  • @avl.wearshop

    Makelar itu auto bekerja utk keduanya.. gak ada yg namanya makelar bekerja utk satu pihak saja..
    " loh diakan makelar penjual, diakan makelar pembeli.." mereka itu jadi satu kepentingan biasa mereka menyebut diri mereka sbg TEAM.
    krn dasar kepentingan makelar adalah jadi/terwujud/deal

  • @sitisumiyatisafitr9151

    Asalamualaikum maaf klo sy beti tanah seharga 500 jt brp sy harus kasih sama perantara menurut islam

  • @AzzaAjah-n8c

    Bagaimana KLO teman sy meminta tolong kos sy untuk Carikan pembeli tanah,setelah dapat si teman sy mau jual tanah 75 JT,tp sy menawarkan 78 JT k pembeli apakah sy berdosa menerima uang itu? Mohon pencerahannya

  • @WahyuniNst-jg9zh

    Jika sudah mendapatkan upah dari kedua belah pihak ,lalu menambah harga dan keuntungan lagidari brg tersebut tanpa sepengetahuan pembeli . hukum ny Gimn ustad?

  • @kurniawanawan4669

    Boleh tp harus ada akad terlebih dahulu, jika sepakat maka boleh dilanjutkan, jika tdk ada kesepakatan tau2 minta komisi, maka hukumnya gratis tanpa komisi/seikhlasnya klo dikasih

  • @PropertyCipanas

    banyak broker yg tak faham hukum dalam jual beli, makanya kebanyakan broker skrg pada serakah.

  • @nuraan8876

    Berapa persen kalo ngasih upah ke makelar

  • @nety8390

    Saya mau jual tanah rumah saya hubungi slmt ini cerbon desa mari kangen kebon duhur blok Kajen kebon duhur RT.07rw04 blok Kajen datang lah slmt ini tanah strategis pinggir jalan besar seharga 2 setengah miliar bisa buat kos.kosan tananya memanjang jln

  • @erareview3401

    Mohon izin bang…
    Apa hukum nya, say jadi mediator antara kedua temen saya, saya di minta Pembeli buat bantu nurunkan harga penjual senilai 1,5 M jadi 1 M, pembeli dan penjual adalah temen saya dan mereka tau saya profesi jual beli jadi saya tidak meminta berapa persen di awal …

    Qodralullah deal .. tapi saya cuman di kasih amplop 300 ribu dari pembeli dan 500 ribu dari penjual… Jujur saya kecewa dan sakit hati ustadz.. saya udah bantu nurunkan 500 juta dari penjual untuk pembeli, saya minta baik" sama temen pembeli, lalu dia bilang kesini ketoko bebas ambil baju tapi senilai 300 ribu kesanya gak ada menghargai temen

    Apakah itu termasuk dzolim dari pembeli dan penjual bang??
    Mengigat sudah ada UU tentang besarnya jual beli properti.. saat ini hubungan Kami putus bang..

  • @AgungNSusanto

    Jika calo hanya bekerja untuk penjual, dan tidak bekerja untuk pihak pembeli, maka dia tidak boleh minta upah dari pembeli, melainkan hanya boleh minta upah dari penjual. Demikian pula sebaliknya, jika calo hanya bekerja untuk penjual, tidak boleh dia minta upah dari pembeli. Calo hanya boleh meminta upah dari penjual.

    Dalam masalah tersebut, Syeikh Abdurrahman bin Shalih Al Athram mengatakan,

    “Jika tidak terdapat syarat atau kebiasaan tertentu, maka upah bagi calo dibebankan kepada pihak yang memperoleh jasa perantaraan dari kedua belah pihak (penjual dan/atau pembeli). Jika calo memberi jasa perantaraan bagi penjual, maka upah calo menjadi kewajiban penjual. Jika calo memberi jasa perantaraan bagi pembeli, maka pembelilah yang wajib memberi upah.
    Jika calo memberi jasa perantaraan bagi penjual dan pembeli sekaligus, maka upah calo itu menjadi kewajiban penjual dan pembeli.” (Abdurrahman bin Shalih Al Athram, Al Wasathah At Tijariyyah fi Al Mu’amalat Al Maliyah, hlm. 382).   

    (Diambil dari materi tanya jawab guru kami KH.Shiddiq Al Jawi)